PUTER Indonesia

People Based Planning

Layanan

Puter Indonesia dapat menjadi mitra untuk menjalankan sebuah proyek community development secara utuh, dari mulai investigasi awal (community profilling) sampai ke tahap evaluasi dan pelaporan. Untuk mendukung layanan ini, Puter Indonesia didukung oleh staff-staff yang telah berpengalaman lebih dari 5 tahun dalam proyek community development . Puter Indonesia sejauh ini telah mengembangkan beberapa pendekatan alternatif yang telah diuji untuk berbagai lembaga, yakni:

  • Menfasilitasi dan melatih proses Participatory Rural Appraisal dan Participatory Planning, terutama di tingkat lokal.
  • Melakukan Community Mapping/Participatory Mapping 
  • Melakukan Community Profilling pada komunitas
  • Melakukan Livelihood Analysis dan Situational Analysis pada sebuah komunitas
  • Melakukan Stakeholder Analysis 
  • Melakukan Survey-Survey Socio-Economic 
  • Melakukan Impact Evaluation terhadap sebuah proyek yang sedang berjalan atau telah berakhir

Selain layanan di atas, Puter Indonesia menyediakan layanan berupa :

SCOPING 

Scoping merupakan cara berpikir sistemik dan sistematis suatu kelompok (systems and systematic group mind). Hasil scoping berupa gambaran mosaik yang bersifat makro dan lengkap menyangkut isu tertentu. Gambaran disajikan melalui peta persoalan persoalan atau pertanyaan-pertanyaan strategis, serta peta interaksi dan pengambilan keputusan diantara pelaku yang berkepentingan. Informasi yang diperoleh dari hasil scoping menjadi landasan bagi perencanaan strategis.

Scoping merupakan alat penyaring bagi isu-isu penting tetapi bukan merupakan kebutuhan prioritas untuk perencanaan strategis. Selain itu scoping merupakan dinamisator bagi terbangunnya kesepakatankesepakatan diantara anggota tim mengenai banyak hal mendasar, seperti protokol komunikasi, platform bersama, dan kesepakatan terminologi (peristilahan).

PENGGAGASAN DAN PENGUATAN VISI DAN MISI 

Rangkaian proses pembentukan suatu organisasi dimulai dari perumusan gambaran perubahan yang diharapkan terwujud, dimana organisasi bersangkutan akan memberi sumbangan terbesarnya. Gambaran perubahan harus dibangun berdasarkan kesepakatan para pemrakarsa. Gambaran perubahan, sering disebut visi, merupakan pemandu dinamika gerak organisasi.

Visi merupakan tonggak utama bagi tatanilai (values system) sebuah organisasi, dan pada gilirannya menjadi sumber gagasan untuk kebutuhan produksi dan kewirausahaan organisasi yang bersangkutan. Proses ini dibutuhkan oleh organisasi-organisasi yang baru didirikan. Namun beberapa organisasi yang sudah mantap pun membutuhkannya, terutama untuk secara bersama-sama meninjau kembali visi (revisting vision) yang telah disepakati sebelumnya. Visi yang jernih dan dapat dipahami oleh seluruh anggota organisasi merupakan landasan dibangunnya tim yang kompak, partisipasi penuh anggota dalam pengambilan Keputusan serta memungkinkan dibangunnya sistem monitoring dan pengendalian swadiri (self monitoring and controling system). 

PERENCANAAN STRATEGIS 

Seperti halnya penggagasan visi, gambaran perubahan dibutuhkan bagi perencanaan dan perancangan program. Dari gambaran makro inilah kita berangkat untuk menguatkan misi serta memberi sumbangan bagi terwujudnya visi organisasi bersangkutan, melalui perumusan program-program yang dibutuhkan.

Bagaimana gambaran perubahan yang ingin diwujudkan melalui program untuk kurun waktu tertentu? Ini merupakan pertanyaan awal yang harus dijawab bersama-sama oleh para anggota organisasi. Bagaimana gambaran perubahan program dapat menyumbang terwujudnya visi organisasi? Ini merupakan pertanyaan verifikasi, apakah program sesuai dengan visi dan misi organisasi. Dari gambaran perubahan yang telah diverifikasi, dilakukan penggalian dan penjelajahan gagasan di antara para anggota organisasi untuk mendapatkan syarat-syarat penting bagi terwujudnya perubahan. Daftar yang dinamis dari syarat-syarat tersebut akan menjadi semacam bank gagasan bagi pengembangan program untuk kurun waktu tertentu.

Perencanaan strategis dimulai pada saat organisasi memilih untuk memenuhi beberapa syarat tertentu dari seluruh syarat yang terdapat dalam daftar, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan strategis saat itu. Hasil perencanaan strategis merupakan titik berangkat bagi penyusunan detil rencana program yang tajam, strategis dan dipahami oleh anggota organisasi, serta memungkinkan dikembangkannya sistem Monitoring dan pengendalian swadiri.

PERENCANAAN BERBASIS MASYARAKAT 

Perencanaan berbasis masyarakat merupakan salah satu kembangan dari perencanaan strategis. Selain itu perencanaan berbasis masyarakat dikembangkan dari proses belajar yang terus berlanjut tentang berbagai teknik perencanaan seperti kajian pedesaan secara cepat (rapid rural appraisal), kajian pedesaan secara partisipatif (participatory rural appraisal), riset aksi partisipatif (participatory action research), pemetaan partisipatif (community mapping), dan perencanaan pengelolaan sumberdaya kampung (village based Resources management planning).

Perencanaan berbasis masyarakat juga dimulai dengan penyepakatan gambaran perubahan yang ingin diwujudkan oleh masyarakat melalui program yang akan dikembangkan. Kemudian masyarakat secara partisipatif akan menjelajahi syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mewujudkan perubahan berdasarkan pemahaman dan pengetahuan terbaik yang mereka miliki sesuai kapasitas lokal. Secara demokratis masyarakat akan memilih syarat-syarat tertentu yang sesuai dengan kapasitas mereka saat itu mereka anggap sesuai dengan kebutuhan strategisnya.

Berbeda dengan perencanaan strategis untuk organisasi, perencanaan berbasis masyarakat dimulai dengan kegiatan kajian dan penelitian lapangan yang dilakukan oleh masyarakat dengan dampingan tim fasilitator Puter Indonesia. Informasi dari kajian dan penelitian lapangan tersebut kemudian disajikan dan dipresentasikan

dimuka warga dan para petinggi kampung, serta menjadi landasan bagi proses perencanaan lebih lanjut. Proses ini memungkinkan dikembangkannya sistem monitoring dan pengendalian program oleh masyarakat mandiri.

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI BERBASIS MASYARAKAT 

Informasi merupakan sumber kekuatan dan kekuasaan. Penguasaan dan pemahaman atas informasi merupakan bahan utama bagi penguatan posisi tawar (bargaining position). Bagi masyarakat Indonesia, sejauh ini informasi merupakan barang mewah. Meskipun sehari-hari mereka berurusan dengan informasi kenyataannya masyarakat Indonesia, terutama mereka yang hidup di pedesaan di berbagai pelosok Nusantara, kurang memiliki kepekaan dan kemampuan untuk menguasai informasi.

Sistem informasi berbasis masyarakat merupakan usaha menumbuhkan dan menguatkan posisi tawar masyarakat dalam pembangunan. Dalam proses pengembangannya sistem informasi berbasis masyarakat melibatkan berbagai pendekatan, termasuk scoping, perencanaan berbasis masyarakat, dan pemetaan partisipatif. Hasil dari proses ini berupa protokol konsultasi masyarakat terhadap berbagai tawaran-tawaran atau rencana pembangunan dan investasi yang akan dilakukan oleh pihak dari luar, baik itu instansi pemerintah, LSM, Ornop maupun swasta.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*