Berita

DELIBERATIVE DIALOGUE DALAM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS KOMUNITAS YANG HOLISTIK DAN BERKELANJUTAN

DELIBERATIVE DIALOGUE DALAM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS KOMUNITAS YANG HOLISTIK DAN BERKELANJUTAN

(Studi Kasus Pengelolaan Sampah di Pejaten Pasar Minggu, Jakarta Selatan)

Eko Wahyono Sadewo [1]
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Departemen Sosiologi, Universitas Indonesia
 
 PENDAHULUAN
 
Permasalahan
Jauh panggang dari api. Ungkapan ini tepat untuk menggambarkan harapan masyarakat terkait model pengelolaan sampah di DKI Jakarta. Model pengelolaan sampah konvensional (dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah) justru melahirkan beragam persoalan baru mulai dari pengangkutan sampai keterbatasan lahan, tempat pembuangan akhir sampah.
 
Model konvesional di atas memberikan ruang yang minim bagi partisipasi masyarakat. Padahal, partisipasi masyarakat merupakan unsur penting untuk melakukan gerakan pengelolaan sampah. Partisipasi masyarakat dilakukan melalui penerapan 3R, yaitu Reduce, Reuse dan Recycle. Dengan melakukan ini, sampah yang ada di Jakarta dapat berkurang, minimal dalam ruang lingkup komunitas. Selain itu, partisipasi masyarakat diharapkan juga memberikan manfaat ekonomi mikro dari hasil daur ulang sampah kemasan.
 
Partisipasi sebagai “nyawa” dalam managemen pengelolaan sampah pernah diterapkan di
Kelurahan Warakas, Jakarta Utara (Lestari. 2009). Namun, peran struktur, aktor, dan organisasi dalam masyarakat dalam mengorganisasikan pengelolaan sampah yang bersifat partisipatif dan holistik, belum menjadi perhatian utama. Interaksi antara elemen-elemen di atas (struktur, aktor dan organisasi) terlihat dalam komunitas pengelola sampah di Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Komunikasi yang setara dan terbuka ini merupakan salah satu ciri khas sebuah deliberative dialogue.
 
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses deliberative dialogue mengenai pengelolaan sampah berbasis komunitas yang holistik dan berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini juga menggambarkan bentuk pengelolaan sampah di dalam Komunitas Delima, Pejaten Timur.
 
Signifikansi Penelitian
Pengelolaan sampah merupakan salah satu masalah utama masyarakat Jakarta. Beragam pendekatan dan paradigma sudah ditawarkan untuk mengatasi masalah ini. Pengelolaan sampah berbasiskan pada masyarakat merupakan paradigma yang ditawarkan dalam upaya penyelesaikan masalah sampah di Jakarta. Penelitian-penelitian terdahulu sudah menggambarkan urgensi paradigma ini, tetapi belum mengkaji secara mendalam tentang proses deliberative dialogue yang terjadi dalam suatu komunitas atau masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini membantu mengisi kekosongan ini serentak sebagai tawaran baru dalam pengelolaan sampah yang berbasiskan pada komunitas yang holistik dan berkelanjutan. Dengan demikian, hasil penelitian bisa dijadikan landasan dan model baru dalam menyusun kebijakan pengelolaan sampah di Jakarta.
 
Metode Penelitian
Penelitian ini mengunakan metode kualitatif. Menurut Stake (1995), penelitian kualitatif digunakan untuk mendapatkan informasi yang mendalam mengenai sebuah gejala sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, dimana dalam penelitian ini peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. Dalam penelitian ini tekhnik pengumpulan data yang dipergunakan adalah wawancara mendalam, observasi, dan data sekunder.
 
KERANGKA KONSEPTUAL
 
Pengembangan Komunitas
Menurut Ife (2008), definisi komunitas itu cukup luas, ada lima ciri untuk mengidentifikasi sebuah komunitas, yang pertama adalah skala manusia. Komunitas biasanya melibatkan interaksi-interaksi pada skala yang mudah untuk dikendalikan dengan skala terbatas pada orang yang saling mengenal sehingga interaksi mudah untuk diakses oleh semua anggota komunitas. Kedua, ada unsur identitas dan kepemilikan dimana ada perasaaan untuk memiliki, perasaan diterima dan dihargai dalam lingkup kelompok. Ketiga, ada beberapa kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilakukan kepada komunitasnya dalam bentuk partisipasi dan kontribusi. Keempat, ada unsur Gemeinshacf dimana sebuah komunitas memberi kesempatan kepada setiap individu untuk berinteraksi dengan sesamanya dalam keberagaman peran yang lebih besar, yang tidak hanya didasarkan pada tanggung jawab pada tiap bagian kerja namun sebuah kerja individu adalah tangung jawab bagi semua anggota komunitas. Kelima, ada budaya lokal yang diilhami dan ditaati secara bersama-sama oleh komunitas. Menurut Ife (2003) secara sosial hakikat utama dari sebuah komunitas adalah “kelekatan sosial” yang dalam ungkapan awam kerap disebut sebagai paguyuban, kolektivitas, atau bentuk aktifnya adalah gotong royong.
 
Pada banyak komunitas lokal yang masih tradisional sangat jelas bagaimana, kolektivitas
mengatasi individu sehingga secara kultural ekualitas antarwarga secara harafiah diwujudkan dalam bentuk kesetaraan dalam kepemilikan ekonomi dan aktivitas sosial (Prayogo, 2011). Istilah pengembangan masyarakat sesungguhnya bersumber pada istilah community development, yang kemudian oleh Jack Rothman (1979), disamakan pula dengan locality development. Pengembangan masyarakat didefinisikan sebagai sebuah model pengembangan masyarakat yang menekankan pada partisipasi penuh seluruh warga masyarakat. Tropman (1996) mengemukakan, bahwa locality development merupakan suatu cara untuk memperkuat warga masyarakat dan untuk mendidik mereka melalui pengalaman yang terarah agar mampu melakukan kegiatan berdasarkan kemampuan sendiri untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka sendiri pula. Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa masalah utama dalam community development adalah sosial ekonomi yang merupakan kajian sosiologi. Mensyaratkan partisipasi penuh warga masyarakat di dalam proses kegiatan (mulai dari gagasan sampai kepada pemanfaatan).
Tujuan dari community development adalah membangkitkan partisipasi penuh warga masyarakat yang mewujudkan kemampuan dan integrasi masyarakat untuk dapat membangun dirinya sendiri. Community development ketika diterjemahkan menjadi pengembangan masyarakat, maka istilah “pengembangan” dilekatkan ada pemahaman bahwa masyarakat mempunyai sesuatu yang secara tradisional telah dilakukan dan dimanfaatkan oleh mereka bagi pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraannya. “Memiliki sesuatu secara tradisional” maksudnya adalah modal sosial seperti, kepercayaan (trust), hubungan timbal balik (reciprocity) dan jaringan (networking) yang melekat dalam struktur sosial setiap satuan masyarakat sehingga memungkinkan mereka mampu mengkoordinasikan tindakannya dan mencapai tujuan bersama dalam bentuk partisipasi.
 
Partisipasi
Konsep partisipasi bisa diartikan secara luas, tetapi pada umumnya konsep partisipasi mengacu pada United Nations Economic and Social Council Resolution 1929 (LVIII) yang menjelaskan bahwa partisipasi adalah keikutsertaan masyarakat secara demokratis pada (a) ikut berkontribusi dalam sebuah upaya pembangunan, (b) ikut merasakan keuntungan dari sebuah pembangunan dan (c) ikut berperan serta dalam sebuah pembuatan keputusan, memformulasikan sebuah perencanaan baik secara ekonomi dan sosial di dalam program pembangunan (Raphaella, 2003). Partisipasi seringkali dianggap sebagai bagian yang tidak terlepas dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Terkait dengan konsep ini, Mikkelsen (2005) melihat bahwa konsep partisipasi digunakan di dalam masyarakat dalam makna sebagai, (a) Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat dalam suatu proyek (pembangunan). (b) Partisipasi adalah proses membuat masyarakat menjadi lebih peka dalam rangka menerima dan merespon proyek pembangunan. (c) Partisipasi adalah suatu proses aktif, yang bermakna bahwa orang atau kelompok yang sedang ditanyakan mengambil inisiatif dan mempunyai otonomi untuk melakukan hal tersebut. (d) Partisipasi adalah proses menjembatani dialog antara komunitas lokal dan pihak penyelenggara proyek dalam rangka persiapan, pengimplementasian, pemantauan dan pengevaluasian staff agar dapat memperoleh informasi tentang konteks sosial atau dampak sosial proyek terhadap masyarakat. (e) Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat secara sukarela dalam perubahan yang ditentukan sendiri oleh masyarakat. (f) Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam upaya pembangunan lingkungan, kehidupan dan diri mereka sendiri.
 
Dari beberapa konsep tersebut dapat dirangkum bahwa partisipasi masyarakat merupakan sebuah keseluruhan dalam proses pembangunan mulai dari pengembilan keputusan dalam
identifikasi masalah dan kebutuhan, perencanaan program, pelaksanaan serta evaluasi dan
menikmati hasil. Dengan partisipasi masyarakat dalam berbagai tindakan bersama melalui
aktivitas lokal, telah terjadi proses belajar sosial yang kemudian dapat meningkatkan kapasitas masyarakat untuk berpartisipasi secara lebih baik dalam tindakan bersama dan aktifitas lokal berikutnya.
 
Deliberative Dialogue
Deliberative dialogue merupakan suatu proses pembelajaran bersama dari beragam kelompok orang dimana di dalamnya terjadi sebuah diskusi, baik diskusi di dalam kelompoknya sendiri ataupun diskusi dengan pihak lain mengenai masalah ataupun hal yang sedang dilakukan, baik dalam mengidentifikasi masalah ataupun dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dialog memiliki kemampuan untuk menjembatani komunitas yang banyak memiliki perbedaan itu dengan membangun norma-norma kolektif, nilai, tatakelola diantara berbagai sektor atau stakeholder (Dale, 2005). Sejalan Dale, Ife (2005) menjelaskan bahwa salah satu hal yang diperlukan dalam partisipasi yang ada di dalam masyarakat adalah sebuah dialog, dengan adanya dialog keputusan yang dihasilkan merupakan sebuah keputusan bersama dengan posisi yang seimbang antar kelompok atau individu. Dengan adanya dialog ini memungkinkan terjadinya mekanisme seluruh komunitas berpartisipasi dalam sebuah pembuatan perencanaan sampai dengan monitoring dan evalauasi. Deliberative dialogue ini memungkinkan kesetaraan yang sama antarsemua stakeholder dengan prinsip tidak menganggap pihak lain sebagai pihak yang paling tahu dan paling berhak memutuskan sebuah keputusan.
 
Dialog memiliki kemampuan untuk menjembatani komunitas yang banyak memiliki perbedaan itu dengan membangun norma-norma kolektif, nilai, tatakelola di antara beberapa sektor atau stakeholder (Dale, 2005). Enam tahap integrasi yang penting bagi sustainable community development adalah Empowerment, relationship, connection, reciprocity, communication dan deliberative dialogue. Keterlibatan (engagement) setiap anggota komunitas merupakan kondisi awal yang harus ada dalam pembangunan komunitas yang berkelanjutan. Keterlibatan mengandaiakan setiap anggota memiliki sumber daya. Karena itu, setiap anggota perlu diberdayakan sehingga mereka mampu untuk terlibat dalam setiap proses pembangunan. Pemberdayaan (empowerment) juga menjadi titik tolak ke langkah selanjutnya yaitu pembinaan relasi (relationship) di antara semua anggota komunitas. Relasi membuka ruang bagi kerja sama (cooperation) di antara mereka.
 
Untuk bisa bekerja sama, setiap anggota harus memiliki kepercayaan satu terhadap yang lain. Kepercayaan (trust) menjadi landasan kerja. Kerja sama akan menyatukan (bonding) semua anggota dalam sebuah komunitas yang solid. Soliditas komunitas dibutuhkan atau menjadi prasyarat baginya untuk berkoneksi (connection) dengan orang atau komunitas lain. Dalam koneksi tercipta komunikasi (communication) dua arah yang merupakan ruang untuk saling membagi pengetahuan (knowledge diffusion) dan membicarakan nilai-nilai yang harus dicapai di masa depan (shared futures). Pada titik inilah terjadi proses dialog dimana setiap peserta dialog berada dalam kedudukan yang setara dan memiliki hak yang sama untuk berbicara tentang aneka persoalan yang dihadapi bersama (dialogue deliberative).
 
TEMUAN LAPANGAN
 
Komunitas Delima
Komunitas Delima merupakan kelompok pengelola sampah di RW 07, Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Komunitas Delima ini berdiri sejak tahun 2011, atas prakarsa Yayasan Puter yang disponsori oleh enam perusahaan (Cocacola, Tetrapack, Unilever, Danone, Nestle, Indofood). Yayasan ini melakukan pemberdayaan komunitas khususnya di bidang pengelolaan sampah sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat terkait sampah-sampah hasil produksi keenam perusahaan tersebut.
 
Sebagai program, pemberdayaan komunitas yang dilakukan Yayasan Puter memiliki jangka waktu. Artinya, Yayasan Puter tidak mendampingi Komunitas Delima selamanya. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kemandirian komunitas. Menarik bahwa dalam tiga terakhir, sejak Yayasan Puter “meninggalkan” komunitas ini, Komunitas Delima berhasil mempertahankan keberadaaannya sebagai komunitas pengelola sampah.
 
 Dinamika Komunitas
Komunitas Delima ini sudah pernah mengalami kondisi pasang surut dalam upaya pengelolaan sampah. Pada waktu pendampingan oleh Yayasan Puter Kelompok Delima dibagi menjadi dua kelompok. Pembagian kelompok ini berdasarkan lokasi. Kelompok Delima atas dipimpin oleh Ibu Rahayu, kelompok bawah dipimpin oleh Ibu Nonik. Pembagian kelompok ini berguna dalam pengumpulan sampah yang efisien, mengingat wilayah RW 07 ini cukup luas.
 
Dalam perjalanan waktu, kelompok bawah menghadapi masalah yang berujung pada “kematian” kelompok ini. Ketidaktransparanan dalam pengelolaan keuangan dan kemacetan komunikasi menjadi virus yang mematikan seluruh kegiatan kelompok ini. Kelompok atas justru menampilkan cerita yang lebih positif. Mereka berhasil mempertahankan komunitas dan seluruh kegiatannya. Kegagalan kelompok bawah dalam mengelola keuangan secara tidak transparan, dijadikan pengalaman yang berharga bagi Komunitas Delima untuk mengelola keuangan secara terbuka. Catatan mengenai pemasukan dan pengeluaran dari hasil pengelolaan sampah dicatat secara teliti, semua anggota bisa melihat aktivitas keuangan melalui laporan bulanan yang dibuat oleh pengurus. Laporan bulanan ini juga mencatat jika ada bantuan dari pihak luar yang diberikan kepada komunitas ini. Transparansi dalam pengelolaan keuangan bertujuan agar pengelolaan keuangan ini dapat diketahui dan dikontrol secara bersama-sama oleh semua anggota komunitas.
 
Kegiatan Komunitas Delima
 
1. Pertemuan Mingguan Kelompok
Pertemuan mingguan merupakan kegiatan rutin sejak komunitas ini didirikan. Pertemuan ini adalah sarana anggota kelompok untuk bertukar pikiran mengenai rencana ke depan yang akan dilakukan oleh kelompok. Berdiskusi dan bertukar pikiran dalam proses identifikasi masalah yang ada di wilayah RW 07. Pertemuan ini diharapkan mampu dijadikan sebagai sarana masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya.
 
Dalam pertemuan ini dibahas agenda-agenda kelompok, seperti pengisian buku tabungan, evaluasi, dan pembahasan rencana-rencana kelompok. Selain itu, pada pertemuan ini dilakukan untuk melaksanakan peningkatan kapasitas (pelatihan-pelatihan). Pertemuan ini juga dilakukan untuk mendorong anggota untuk membahas pembentukan kelembagaan sentra daur ulang sampah, menentukan aturan main, kepengurusan, dan struktur keorganisasian.
 
Pertemuan rutin mingguan diharapkan mampu memberikan pemahaman komunitas terhadap realitas di lingkunganya, sebagai upaya untuk merealisasi ide, gagasan dan juga targetnya. Komunitas diberikan kekuasaan penuh untuk merencanakan, melaksanakan serta mengevaluasi mengenai program pengelolaan sampah ini. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan untuk menentukan masa depan yang akan dicapai.
 
2. Pelatihan Keterampilan
Pelatihan pengelolaan sampah diberikan kepada semua anggota komunitas Delima. Instruktur pelatih dipilih dari warga RW 07 sendiri terutama oleh ibu-ibu PKK dan Jumantik. Hal ini dipilih karena anggota Jumantik dan PKK ini sudah cukup mengetahui dasar dalam mengelola sampah sehingga diharapkan dengan pengetahuanya tersebut dapat disalurkan kepada anggota lain yang belum memiliki keahlian dalam bidang ini.
 
Beberapa pelatihan yang difasilitasi oleh Yayasan Puter ini adalah melakukan pengolahan sampah menjadi barang yang bermanfaat atau menjadi barang kerajinan. Beberapa barang
kerajinan yang dihasilkan adalah vas bunga, bunga-bungaan, tas, tempat serba guna, asbak dll. Selain melakukan pelatihan secara tekhnis di kelompok ini, Yayasan Puter juga memfasilitasi Kelompok Delima untuk melakukan studi banding di komunitas lain, yaitu dengan kelompok Peduli Lingkungan di Banjarsari Cilandak.
 
Dari kegiatan ini Komunitas Delima mendapatkan banyak pelajaran yang bisa dipetik, ada pelajaran baru yang didapatkan dari kegiatan ini. Sebelumnya, anggota Komunitas Delima beranggapan bahwa untuk melakukan pengelolaan sampah dan juga mengelola lingkungan hijau membutuhkan lahan yang luas. Hal ini juga disadari oleh Ibu Yati dan Ibu Rahayu di lokasi tempat tinggal mereka sudah tidak ada lahan kosong. Namun, di wilayah Kelompok Peduli Lingkungan ini juga ternyata juga tidak memiliki lokasi yang besar untuk mengelola lingkungan. Untuk membuat tanaman obat dan bunga-bunga misalnya, tidak perlu lahan yang luas, namun bisa memanfaatkan sisa lahan di depan rumah dan bahkan jika tidak ada lahan bisa menanam tanaman tersebut pada pot yang digantung secara vertikal.
 
3. Pelatihan Manajemen Keuangan Lembaga
Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan pengurus Komunitas Delima, dilakukan pelatihan managemen keuangan lembaga. Pelatihan ini dilakukan secara infrormal dan berdasarkan pencatatan pembukuan dari pengelolaan keuangan lembaga dari kegiatan penjualan sampah dan simpan pinjam dana.
 
Pada awalnya dari Yayasan Puter memberikan contoh laporan sebagai salah satu acuan untuk pembuatan laporan untuk Komunitas Delima ini, akan tetapi Ibu Rahayu menyarankan untuk membuat format laporan yang sederhana dan mudah untuk dipahami pengurus dan anggota. Hal ini untuk mempermudah anggota Komunitas Delima ini dalam mengelola buku tabungannya. Beberapa hal yang disesuaikan adalah pengubahan kolom-kolom yang ada di laporan tersebut, hanya dibuat tabungan dan pinjaman, karena hanya dua kegiatan ini yang akan difokuskan terlebih dahulu dalam kegiatan ini. Selain itu dalam laporan setiap kegiatan simpan pinjam antara pengurus dan juga anggota masing-masing memiliki buku catatan sendiri. Anggota yang menabungkan sampah diwajibkan memiliki buku rekening. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan antara pengurus dan anggota.
 
Seiring berjalannya waktu, banyak anggota komunitas yang tidak menggunakan buku tabunganya lagi. Pengurusnya saja yang memiliki catatan. Hal ini didasarkan atas rasa kepercayaan anggota dengan pengurus komunitas Delima ini. Ibu Rahayu memiliki catatan yang rinci dan detail, setiap bulan beliau membuat laporan keuangan yang ditempel di lokasi
pengelolaan sampah. Salah satu bentuk kepercayaan dari anggota kepada pengurus adalah para anggota seringkali tidak mengecek berapa jumlah uang mereka hasil dari menabung sampah.
 
4. Pembuatan Tempat Lokasi Pengolahan Sampah
Salah satu kegiatan Komunitas Delima ini adalah pembangunan gudang sampah untuk menampung hasil penimbangan sampah oleh Kelompok Delima. Bangunan ini akan digunakan tidak hanya sebagai gudang tetapi juga sebagai sekretariat lembaga sentra daur ulang ataupun kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya. Secara prinsip izin lokasi pembangunan dan jenis bangunan yang akan dibuat, telah disepakati oleh perwakilan Komunitas Delima dan Ketua RT setempat.
 
Dalam perjalanan waktu, pemilik bangunan ini menaikkan tarif sewa satu tahun kemudian, setelah melalui diskusi di Komunitas Delima memutuskan tidak akan memperpanjang kontrak tersebut karena harga tarif sewa yang dianggap tinggi dan komunitas keberatan untuk membayar uang sewa tersebut. Pada saat ini, pendampingan Yayasan Puter sudah berakhir sehingga pemilihan lokasi dimusyawarahkan sendiri oleh anggota Delima. Pada saat lokasi yang dahulu sudah tidak dilanjutkan penyewaanya, Komunitas Delima belum memiliki lokasi baru untuk mengelola sampah. Semua anggota diharapkan mampu memberikan masukan yang baik terhadap persoalan ini. Mereka sudah mencari beberapa lokasi tetapi belum ada warga yang merelakan lahannya untuk dijadikan tempat pengelolaan sampah. Ibu Yati memberikan usulan agar lahan depan rumahnya bisa dijadikan tempat pengelolaan sampah. Usulan ini muncul dalam suasana dimana komunitas ini sangat
membutuhkan lokasi pengelolaan sampah. Sebelum diputuskan secara definitif, Ibu Yati meminta saran dan masukan dari seluruh anggota bagaimana sebaiknya kelanjutan lokasi pengelolaan sampah ini. Setelah diskusi menemui jalan buntu, lokasi di depan rumah Ibu Yati ditetapkan tempat pengelolaan sampah
 
5. Kegiatan Pengelolaan Sampah
Kegiatan pengelolaan sampah dilakukan setiap hari Sabtu, mulai dari jam 8 pagi sampai dengan jam 2 (atau sampai selesai). Pengelolaan sampah dilakukan di di depan rumah ibu Yati, di sebuah gang kecil di RT 12, dekat Stasiun Pasar Minggu. Warga tidak mempermasalahkan tempat ini dijadikan lokasi pengelolaan sampah. Karena gang ini juga bukan merupakan jalan utama, dan biasanya hanya dilewati oleh warga yang rumahnya di lokasi ini saja. Sebelumnya komunitas sudah meminta izin kepada warga di lokasi ini yang sebagian besar juga merupakan anggota komunitas. Semua setuju dan tidak mempermasalahkan penggunaan jalan ini sebagai tempat pengelolaan sampah. Anggota Komunitas Delima juga tidak merasa keberatan dengan pengelolaan sampah yang dilakukan di lokasi ini, hal ini juga didasarkan karena tidak ada lokasi lain. Ibu Rahayu sebagai ketua sudah melakukan rapat kecil untuk semua anggotanya di rumah Ibu Yati dengan menanyakan komitmen mereka terhadap Kelompok Delima ini. Rapat ini membahas tentang lokasi yang dengan terpaksa dilakukan di depan rumah Ibu Yati. Pengurus yang lain seperti Ibu Badriyah dan Ibu Ijah tidak mempermasalahkan lokasi ini, karena pada intinya pengelolaan sampah harus tetap berjalan dan berlanjut. Di lokasi inilah anggota komunitas ini mengumpulkan sampah non organik seperti, plastik, botol, kardus dan juga kertas yang rata rata merupakan sampah dari hasil konsumsi rumah tangga. Dari rumah masing–masing, sampah sudah dipisahkan antara sampah organik dan sampah nonorganik. Pada saat ini Komunitas Delima lebih fokus pada pengelolaan sampah yang bersifat nonorganik. Hal ini dipilih karena sampah jenis ini merupakan sampah yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi apabila dibandinglan dengan sampah yang bersifat organik. Selain itu, sampah organik relatif cepat terurai dengan lingkungan sehingga tidak memerlukan tekhnologi yang tinggi untuk mengolahnya. Sedangkan sampah nonorganik memerlukan waktu yang sangat panjang untuk bisa terurai dengan tanah, bahkan ada jenis plastik tertentu yang tidak bisa terurai dengan tanah. Oleh karena itu, Komunitas Delima ini mencoba menerapkan prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recyle) dalam melakukan pengelolaan sampah.
 
Dalam aktivitas pengelolaan sampah ini juga ada kegiatan simpan pinjam. Arti simpan pinjam di sini adalah menabung dan meminjam uang dengan menggunakan sampah yang sudah dikumpulkan. Hal ini tentu membuat mayarakat tertarik untuk bergabung. Anggota komunitas ini yang sebagian besar adalah pedagang sangat membutuhkan sarana untuk simpan pinjam yang bersifat mikro. Jumlah dana yang bisa dipinjam dari lembaga ini adalah Rp. 500.000 dengan jangka waktu peminjaman 3 bulan. Hal ini diakui sangat membantu anggota komunitas ini karena dari pinjaman tersebut bisa menambah modal dan juga menutupi kekurangan apabila dagangan mereka kurang laku.
 
Meskipun pengelolaan sampah ini mendatangkan keuntungan ekonomi atau menghasilkan uang, tetapi kebersamaan atau keuntungan sosial menjadi hal utama yang dipertahankan. Dari hasil observasi ketika komunitas ini sedang melakukan pemilahan sampah terdengar secara spontan “Jangan liat uangnya tapi kebersamaanya”, lalu ada Ibu ibu yang menanggapi “ yang penting lingkungan kita udah bersih aje, kita udah seneng kok”. Dari kegiatan ini memang menghasilkan uang, akan tetapi semangat komunitas ini bukan didasari semata-mata oleh uang. Uang bukan dijadikan tujuan utama dalam pelaksanaan program ini akan tetapi lebih pada kebersamaan dan kerukunan masyarakat di RW 07 ini.
 
Proses Berjejaring Komunitas Delima
Hubungan dengan komunitas atau pihak lain menjadi salah satu hal utama demi keberlanjutan program ini. Pada mulanya, Yayasan Puter merupakan mitra yang membentuk serentak mendampingi Komunitas Delima. Sebelum kedatangan Yayasan Puter sebenarnya sudah ada bibit-bibit sebagai modal utama terbentuknya komunitas ini. Di dalam komunitas ini sudah ada Ibu Rahayu yang memiliki hubungan luas dengan masyarakat RW 07. Hal ini dikarenakan Ibu Rahayu adalah ketua dalam berbagai kelompok arisan yang ada di dalam warga seperti arisan mingguan, arisan bulanan dan juga arisan barang. Di sisi lain, embrio jaringan juga sudah dimiliki oleh Ibu Yati sebagai pembina Komunitas Delima ini. Selain masih aktif sebagai Ketua RT 12, Ibu Yati juga aktif dalam kegiatan dalam tingkat kelurahan seperti PAUD dan juga PKK. Di Tingkat Kecamatan Ibu Yati juga aktif dalam kegiatan Formapel (Forum Peduli Lingkungan). Di Formapel Ibu Yati menjabat sebagai bendahara. Dari beberapa organisasi yang sudah diikuti oleh anggota Komunitas Delima inilah yang kemudian menjadi jalan bagi Komunitas Delima untuk berhubungan dan berjejaring dengan komunitas lain. Komunitas ini berjejaring dengan lapak-lapak. Meskipun pada awalnya, kehadiran Komunitas Delima dirasakan sebagai ancaman bagi lapak-lapak, tetapi kemampuan dialog komunitas ini mampu mengatasi masalah ini. Sampai saat ini, Lapak Bapak Kasturi menjadi mitra tetap komunitas ini. Proses kerja sama pun juga dibangun oleh komunitas ini dengan pihak pemerintah (kelurahan). Beberapa usulan untuk kemajuan komunitas ini selalu didiskusikan dalam berbagai forum dan juga didiskusikan secara pribadi antara pengurus komunitas Delima dengan Lurah. Pihak kelurahan sebenarnya sangat mendukung program-program yang berkaitan dengan lingkungan seperti ini.
 
Pada awal berdirinya Komunitas Delima ini memanfaatkan CBO (Community Based Organization) yang ada untuk mensosialisasikan program dan juga mengajak untuk bergabung ke komunitas ini. Beberapa CBO tersebut adalah PKK, Arisan, PAUD dan Jumantik (Juru Pemantau Jentik Nyamuk). Sosialisasi melalui CBO yang sudah ada ini dianggap sebagai cara efektif karena kegiatan Komunitas Delima ini memiliki hubungan kerja yang terkait dengan CBO yang sudah ada. Sebagai contoh dalam kegiatan Jumantik, Komunitas Delima memiliki program kegiatan yang selaras dengan kegiatan ini karena sama-sama berfokus pada kesehatan lingkungan tempat tinggal. Bersinergi dengan CBO yang sudah ada, program yang ada di Komunitas Delima ini cepat diketahui oleh masyarakat luas di RW 07. Dengan gencarnya informasi yang ada, bahkan ada ada warga yang ada diluar RW 07 ikut menjadi anggota komunitas ini. Beberapa komunitas lain yang menjalin relasi dengan komunitas ini adalah Komunitas Kelompok Peduli Lingkungan Banjarsari, Cilandak Barat. Pada awalnya Komunitas Delima belajar dari kelompok ini. Sampai saat ini masih terjalin relasi dan saling bertukar pikiran di antara keduanya. Komunitas lain yang menjalin hubungan dengan komunitas ini adalah Komunitas pengelola sampah Jati Padang, kelompok ini belajar dari pengelolaan sampah yang sudah dilakukan oleh kelompok Delima. Selain komnitas tersebut ada beberapa kelompok bank sampah dari Kelurahan Pejaten Timur yang akan belajar dari Komunitas Delima ini. Selain komunitas pengelola sampah ada beberapa Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta Selatan, STIKIM (Sekolah Tinggi Ilmu Kebidanan Maju) yang belajar mengenai pengelolaan sampah di Komunitas Delima ini. Selama satu minggu kelompok ini bekerja sama dan saling belajar mengenai pengelolaan sampah.
 
ANALISIS TEMUAN
 Interrelasi Struktur, Aktor dan Organisasi di Komunitas Terwujud dalam Deliberative Dialogue Mengenai Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas yang Holistik dan Berkelanjutan
 
1. Interrelasi dalam Perencanaan Program
Partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah sangat diperlukan di sini. Karena masyarakat merupakan subyek utama yang menjadi perencana dan pelaksana program ini. Dalam proses perencanaan ini dilakukan sosialisasi seluas-luasnya kepada masyarakat untuk
berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dalam proses perencanaan program di Komunitas Delima ini hampir seluruh perwakilan RT di RW 07 ikut serta dalam perencanaan program pengelolaan sampah ini. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi semua lapisan masyarakat agar terlibat dalam perencanaan program ini dan tidak hanya diwakili oleh kelompok tertentu. Melalui partisipasi aktif dalam proses perencanaan diharapkan anggota akan menjadi lebih peka dalam menerima dan merespon sebuah program yang akan dijalankan
(Mikkelsen.2005). Masyarakat akan lebih peka terhadap lingkunganya yang memiliki persoalan sampah karena mereka sendirilah yang mengidentifikasi masalah ini. Dengan ikut aktif dalam berpartisipasi merencanakan program, masyarakat sendirilah yang akan merasa memiliki program ini.
 
Keterlibatan (engagement) setiap anggota komunitas merupakan kondisi awal yang harus ada dalam pembangunan komunitas yang berkelanjutan. Keterlibatan mengandaiakan setiap anggota memiliki sumber daya. Karena itu, setiap anggota perlu diberdayakan sehingga mereka mampu untuk terlibat dalam setiap proses pembangunan. Ketika komunitas Delima sudah terbentuk upaya pemberdayaan dilakukan kepada anggota komunitas ini oleh para pendamping dari Yayasan Puter. Prinsip yang diusung Yayasan ini adalah dengan prinsip kesetaraan, yaitu pemberdayaan dengan cara ceramah pendek, bermain peran, FGD, diskusi kelompok kecil/pleno, dan curah pendapat. Dalam kegiatan lokalatih peserta diberikan wawasan dan pengetahuan tentang sampah dan pengelolaannya, mekanisme dan model sentra daur ulang sampah, membangun kesepakatan dan rencana kegiatan dalam kegiatan sentra daur ulang sampah.
 
2. Interrelasi dalam Pelaksanaan Program
a. Interrelasi Internal Komunitas
Dale (2005) menjelaskan bahwa pemberdayaan (empowerment) yang sudah dilakukan di komunitas menjadi titik tolak ke langkah selanjutnya yaitu pembinaan relasi (relationship) di antara semua anggota komunitas. Akan tetapi, di dalam komunitas ini yang terjadi adalah sebaliknya, di antara anggota komunitas ini sudah terjalin relasi yang cukup kuat. Relasi yang kuat ini terjadi karena diantara anggota ini sudah terjadi interaksi dimana mereka sudah mengenal antara satu dengan yang lain secara baik. Selain itu, ada unsur “kelekatan sosial” dalam komunitas ini, karena sebelum komunitas ini berdiri sebagian anggota ini sudah melakukan kegiatan secara bersama-sama, salah satu nya adalah kegiatan arisan RT dan juga arisan RW. Dari relasi inilah proses pemberdayaan berjalan di antara semua anggota Komunitas Delima. Pemberdayaan tidak sepenuhnya hanya dilakukan oleh Yayasan Puter, karena dalam proses pengembangan ini mereka juga belajar dari sesama anggota komunitas. Dalam komunitas ini terdapat prinsip jika seseorang memiliki keahlian tertentu yang berkaitan dengan program ini, maka anggota lain juga harus memiliki kemampuan tersebut. Sebelum Komunitas Delima ini terbentuk, Ibu Rahayu memiliki keahlian mengenai sistem manajemen jauh diatas anggota lainnya, akan tetapi sekarang hampir semua anggota memiliki kemampuan yang sama dalam hal ini.
 
Relasi yang baik diantara semua anggota komunitas ini semakin memperat hubungan mereka dalam bekerja sama melakukan pengelolaan sampah, sehingga terjadi rasa kepercayaan antara satu dengan yang lain. Rasa saling percaya ini terwujud dalam sebuah sebuah transaksi pengelolaan sampah. Pengurus dan anggota komunitas seharusnya sama-sama membawa buku tabunganya setiapkali menimbangkan sampahnya. Akan tetapi banyak anggota yang tidak membawa buku tabunganya untuk dicatat, catatan hanya dipegang oleh pengurus. Anggota komunitas sudah mempercayai pengurus lain dalam melakukan transaksi ini.
 
b. Interrelasi dengan Pihak Eksternal
Kesatuan yang kuat di antara semua anggota (bonding) merupakan sebuah modal yang berharga bagi komunitas ini untuk menjalin koneksi dengan pihak luar atau komunitas lain. Beberapa pihak luar yang menjalin kerja sama dan hubungan dengan komunitas ini adalah CBO (Community Based Organization) yang sebelumnya sudah ada di dalam masyarakat sebelum Komunitas Delima terbentuk. Jalinan komunikasi di antara dua kelompok ini, memberikan keuntungan timbal balik bagi kedua kelompok ini. Kelompok Delima bisa belajar mengenai pengelolaan sampah dari komunitas ini dan Kelompok Peduli Lingkngan ini juga belajar mengenai manajemen simpan pinjam yang sudah dilakukan dengan cukup baik di Komunitas Delima ini. Tercipta sebuah komuniksi yang setara untuk saling berbagi pengetahuan (knowledge diffusion). Terjadi pertukaran infornasi di antara kedua komunitas ini, dan keduanya sama-sama berkomitmen untuk saling bekerja sama dan berkomitmen untuk menjaga lingkungan hidup di wilayah masing masing di masa yang akan datang (shared futures).
 
3. Peran Aktor dalam Proses Deliberative Dialogue
Aktor memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mewujudkan deliberative dialogue di dalam Komunitas Delima ini. Aktor memiliki peranan dalam proses awal pembentukan komunitas yang sampai saat ini terwujud deliberative dialogue dan terus berproses yang mengarah pada modal sosial.
 
Dalam setiap tahap proses menuju deliberative dialogue, aktor memiliki baik sebagai penghubung antara anggota komunitas sampai dengan menjadi penghubung dengan pihak lain. Dalam tahap perencanaan program yang sekaligus dilakukkanya proses pengembangan
komunitas (Empowerment) terjadi relasi diantara komunitas dengan Yayasan Puter. Pada tahap awal ini suara dari masyarakat masih belum tersalurkan sepenuhnya kepada para pendamping, peran aktor seperti Ibu Rahayu dan Ibu Yati sangat penting dalam tahap ini. Belum tersalurkanya suara dan aspirasi tersebut karena masih ada jarak emosional yang belum sepenuhnya dapat diatasi oleh pendamping yang belum mengetahui karakteristik sosial masyarakat di wilayah ini. Aktor memiliki peran dalam menyampaikan kembali apa yang menjadi maksud dan tujuan program ini didirikan.
 
Bentuk Pengelolaan Sampah Komunitas Delima
1. Pengelolaan Sampah di Rumah Tangga
Pengelolaan sampah yang ada di komunitas ini dilakukan oleh anggota komunitas sejak sampah dihasilkan dari rumah tangga. Pemilahan yang dilakukan di rumah tangga ini memegang prinsip 3 R yaitu, Reduce Reuse dan Recycle. Pengurangan sampah dengan metode 3R berbasiskan pada masyarakat ini menekankan cara pengurangan sampah yang dibuang oleh individu, rumah atau kawasan RT/RW.
 
Sebelum ada program pengelolaan oleh Komunitas Delima ini, pada umumnya masyarakat di RW 07 ini masih kurang memahami tata cara pengelolaan sampah yang baik dan benar. Pada proses pelaksanaan program ini sebenarnya upaya 3R tersebut belum sepenuhnya berjalan. Kegiatan yang baru berjalan cukup baik adalah pada Reuse (menggunakan kembali
bahan yang berpotensi menimbulkan sampah) dan Recycle (memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan). Kedua hal tersebut sudah dijalankan didalam komunitas ini. Kegiatan Reduce (mengurangi kegiatan konsumsi yang menyebabkan timbulan sampah) belum bisa dijalankan secara maksimal karena banyak masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang sehingga sangat sedikit kemungkinan untuk bisa mengurangi kegiatan yang menghasilkan sampah. Oleh karena itu, upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meminimalisir dan memilah sampah untuk diolah atau dimanfaatkan kembali kegunaanya.
 
2. Pengelolaan Sampah di Komunitas
Pengelolaan sampah yang dilakukan komunitas ini merupakan hasil dari pengumpulan sampah dari semua anggota Komunitas Delima yang berasal dari sisa produksi atau konsumsi rumah tangga. Sampah yang berasal dari masyarakat ini kemudian ditimbang oleh pengurus Komunitas Delima untuk dihitung berat dan jenis sampah yang dikumpulkan. Sampah tersebut kemudian dipilah berdasarkan jenis sampah. Sampah yang sudah dipisahkan tersebut disimpan di dalam karung yang sesuai dengan jenisnya.
 
Sampah yang diolah ini rata-rata adalah sampah dari botol aqua, sampah plastik, kertas dan kardus. Ada juga sebagian lainnya berupa logam. Sampah yang dipilah ini kemudian dikumpulkan dan disimpan sebelum dijual kepada lapak. Dari hasil penjualan sampah ini, keuntungan diperoleh dan dibuat sebagai tambahan modal untuk simpan-pinjam. Pengelolaan yang ada di komunitas ini pada dasarnya dilakukan oleh pengurus dari Komunitas Delima saja. Namun, dalam pelaksanaannya di lapangan, banyak anggota lain yang ikut berpartisipasi dalam mengelola sampah ini. Partisipasi yang digunakan dalam pengelolaan komunitas ini adalah partisipasi sebagai tujuan, bukan partisipasi sebagai cara. Dijelaskan oleh Ife (2008), partisipasi sebagai cara adalah penggunaan partisipasi masyarakat untuk mencapai tujuan atau sasaran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan partisipasi sebagai tujuan adalah upaya pemberdayaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam membangun diri sendiri secara lebih berarti. Partisipasi sebagai tujuan juga mengutamakan peningkatan kapasitas dan peran masyarakat dalam sebuah proses jangka panjang.
 
PENUTUP
 
Dialog yang terbuka dan setara merupakan semangat dasar dalam proses pengelolaan sampah di RW 07 Pejaten Timur. Hal ini tampak dalam tahap perencanan, pengorganisasian, pelaksanaan dan juga saat evaluasi. Di dalam kegiatan ini, keterbukaan dan kesetaraan menjadi prinsip dalam melakukan kegiatan pengelolaan sampah ini.
 
Aktor memainkan peran penting dalam mengkondisikan ruang dialog yang terbuka dan setara. Aktor-aktor kunci memberi ruang komunikasi baik bagi pihak internal maupun pihak
eksternal. Ruang komunikasi pun memberi peluang maksimal bagi segenap anggota untuk
berpartisipasi aktif mulai dari perencanaan sampai evaluasi program komunitas. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa dialog yang terbuka dan setara, peran aktor, dan partisipasi merupakan tiang-tiang penyangga yang menopang keberlanjutan Komunitas Delima. ***

 
[1]  Yang melakukan penelitian dengan kasus kelompok Delima, Pasar Minggu yang merupakan penerima manfaat program Yayasan Puter Indonesia
 

  1. [url=http://fluconazolepurchasediflucan.com/]Buy Diflucan[/url] <a href="http://canadianprices-pharmacy.com/">Canadian Pharmacy Online Drugstore</a> http://furosemidelasixbuy.com/

  2. IyolinaxivaeJanuary 3, 2016

    http://fluconazolepurchasediflucan.com/ - Diflucan Without A Prescription <a href="http://canadianprices-pharmacy.com/">Online Pharmacy</a> http://furosemidelasixbuy.com/

  3. UciabamiparokJanuary 3, 2016

    http://fluconazolepurchasediflucan.com/ - Diflucan <a href="http://canadianprices-pharmacy.com/">Cialis Canada Pharmacy Online</a> http://furosemidelasixbuy.com/

  4. IgudogepoxuJanuary 3, 2016

    http://fluconazolepurchasediflucan.com/ - Sex On Diflucan <a href="http://canadianprices-pharmacy.com/">Online Pharmacy</a> http://furosemidelasixbuy.com/

  5. AcalepioasudeJanuary 3, 2016

    http://fluconazolepurchasediflucan.com/ - Diflucan Without A Prescription <a href="http://canadianprices-pharmacy.com/">Pharmacy Online</a> http://furosemidelasixbuy.com/

  6. http://fluconazolepurchasediflucan.com/ - Buy Diflucan Without No Prescription Vetrinary <a href="http://canadianprices-pharmacy.com/">Canadian Pharmacy Online</a> http://furosemidelasixbuy.com/

  7. Posting comments after three months has been disabled.

Yayasan Puter Indonesia

Kantor:
Perumahan Bogor Baru, Jl. Danau Toba, Blok C-2 No.9
Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah
Kode Pos 16127
P: +62 251 7568477
F: +62 251 7568477
E: office@puter.or.id