Berita

Mengembangkan Pola Produktivitas Lokal yang Bertanggung Jawab Sosiologis dan Ekologis

Mengembangkan Pola Produktivitas Lokal yang Bertanggung Jawab Sosiologis dan Ekologis



 

Program “Mengembangkan Pola Produktivitas Lokal yang Bertanggung Jawab Sosiologis dan Ekologis di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah telah dilaksanakan dari bulan Oktober 2012 - 2013 beberapa kegiatan sudah dilaksanakan dengan lokasi proyek berada di Desa Terantang dan Terantang Hilir dengan calon wilayah restorasi ekosistem.
Kegiatan ini memiliki beberapa tujuan khusus yaitu;
1.    Meningkatkan posisi tawar warga komunitas dalam mengelola SDA sekaligus turut berperan dalan proses perencanaan Proyek Katingan (restorasi ekosistem: REDD+).
2.    Membangun rencana pengelolaan sumberdaya berbasis warga komunitas sebagai bentuk adaptasi dari rencana restorasi ekosistem dan desain proyek REDD+.
3.    Meningkatkan kapasitas kelembagaan dalam mengelola sumber daya alam dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi anggota
4.    Mengembangkan dan peningkatan pola produktifitas warga komunitas penghasil rotan.
5.  Desiminasi bunga rampai skema REDD+ dan kuasa rakyat. Masing-masing tujuan memiliki ragam aktifitas yang pada kesempatan ini berberapa aktifitas coba ditangkap lensa.
              

Tekanan Manusia dan Menekan Manusia
Sudah menjadi postulat bahwa tekanan manusia pada lingkungan, lingkungan akan “menekan” balik memberikan manusia habitat yang tidak bersahabat bagi peradaban manusia. Hanya sayang sejarah hanya rangkain kata tak bermakna. Umum diketahui bahwa tekanan terhadap ekologi ekosistem hutan rawa gambut didominasi oleh faktor manusia; alih fungsi lahan, pengelolaan yang mengakibatkan jasa lingkungan dan yang utama kebijakan pemerintah.
Ancaman signifikan saat musim kering adalah kebakaran dari faktor alamiah atau manusia dengan beragam motif. Konflik kepentingan antara manusia dan makhluk lain juga meningkat karena habitat mereka semakin sempit. Dilain sisi, politik ekonomi melalui kebijakan atas nama kemakmuran, regulasi dibuat untuk memicu konflik antar manusia dan mengabaikan rakyat yang berdomisili di wilayah dengan sumber daya alamnya melimpah. Gemerlap alat-alat pembangunan, investasi juta dollar hanya sebagai ‘kata’ ta bermakna dikeseharian rakyat.
Tuduhan bahwa rakyat kurang berkualitas untuk turut andil dalam gerak pembangunan dan memberikan kemakmuran hanya sebagai alasan dari kepicikan manusia pembangunan tanpa melihat ancaman punahnya manusia dimuka bumi ini. Sekali lagi sejarah 68 tahun tidak memberikan pelajaran bagi manusia pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peningkatan Posisi Tawar
Penguasaan wilayah kelola desa melalui pembuatan perencanaan desa yang didalamnya ada informasi sejarah desa, skala prioritas pembangunan, peta tata guna lahan (land use) dan peta rencana kelola menjadi “amunisi” untuk meningkatkan posisi tawar warga desa saat hadir investor dengan izin usaha pemanfaatan hutan produksi—baik itu dalam bentuk perkebunan atau restorasi ekosistem dan atau Hak Guna Usaha lainnya. Pendekatan pembangunan top-down acap kali menimbulkan konflik di daerah akibat informasi lokasi pembangunan minim diterima oleh para perencana di pemerintah kabupaten dan nasional. Melalui proyek ini Yayasan Puter Indonesia memfasilitasi pertemuan di dua Desa Terantang Hilir dan Desa Terantang untuk menghasilkan rencana pembangunan desa dengan penghasilkan peta rencana kelola dan prioritas pembangunan. Rencana kelola ini atas inisiatif pemerintahan desa dan kecamatan akan disampaikan ke Bupati Kotawaringin Timur sebagai usulan dan sekaligus memberikan informasi eksistensi rakyat di wilayah yang dipimpinya untuk kemudian menghasilkan kebijakan pembangunan yang populis, termasuk tantangan terhadap bentuk pembangunan yang tidak eksploitatif-sporadis.

Produk Desa
Desa Terantang dan Terantang Hilir merupakan penghasil rotan jenis Taman/Segi (Calamus Caesius) ada 1 pengepul besar ada di desa Terantang. Rata-rata produksi rotan kering asalan di desa Terantang selama satu bulan minim seberat 80 ton dengan pembanding hasil rotan Kabupten Katingan dihasilkan 9.000 – 15.000 ton/tahun rotan kering (Sumardjani, Lisman, 2007).Hal menarik dari produk rotan di kedua desa tersebut merupakan hasil budidaya bukan diambil dari hutan yang selama ini diasumsikan oleh pemerintah sebagai non timber forest product atau hasil hutan non kayu. Tanaman rotan merambat di pohon karet warga.
Mayoritas mata pencarian warga desa berada di value chain rotan asalan, mulai dari mengambil rotan di kebun, membersihkan, mengeringkan dan menjual. Inisiatif menambah nilai produk (value added) rotan sampai tahap produksi belum terjadi di kedua desa tersebut.
Melihat produk rotan asalan yang cukup besar dihasilkan oleh kedua desa tersebut maka melalui proyek ini dilakukan pelatihan dan produksi kerajinan anyaman dari rotan.Pelaksanaannya dengan menghadirkan pelatih dari Cirebon live-in selama 3 bulan di lokasi kegiatan, bukan tanpa alasan para penerima manfaat tidak memiliki dasar menganyam rotan. Pendekatan pelatihan learning by doing menghasilkan produk-produk yang layak untuk bahan promosi bahkan warga desa tetangga memesan tudung saji. Keberadaan pelatih dan siap membantu mereka yang berminat lebih untuk menghasilkan produk memberikan ragam kerajinan.
Produk-produk yang dihasilkan antara lain; tudung saji bentuk bulat dan oval dengan 3 ukuran, tempat sampah kering (sebagai materi dasar), tempat minum kemasan, keranjang batu, satu set keranjang rotan, tempat payung. Volume produksi meningkat saat muncul pesanan dari Emily Readett-Bayley Online Ltd. suatu perusahaan domisili Inggris-- merupakan salah satu proponen Proyek Katingan, memesan keranjang sawit dan keranjang batu dengan bahan baku keseluruhan dari rotan Teger dengan total nilai investasi kurang lebih Rp. 80.000.000.
Untuk mendukung kegiatan kerajinan anyam rotan, diberikan akses dana pinjaman lunak bagi ibu-ibu. Aturan masa pinjaman, bunga pinjaman ditentukan oleh nasabah Sedangkan Puter Indonesia memberikan aturan “getuk tular” dan berkelompok. Dana awal (seeding money) yang dikelola adalah Rp. 60.000.000.
Setiap nasabah yang akan meminjam diberi pelatihan perencanaan usaha sederhana (spreadsheet) untuk memperkirakan berapa modal rencana produksi sehingga ada kesesuaian antara jumlah modal yang dipinjam dengan rencana usaha yang akan dijalankan. Termasuk estimasi perhitungan hasil kelola dana hibah versus jasa pinjaman.
Sebagai payung dalam mengelola para nasabah, para pengrajin dan aset maka dibentuk organisasi dengan nama Badan Usaha Mufakat Sejahtera (BUMS).
Ketua dipilih melalui voting dari 3 kandidat dan ketua terpilih memilih bendahara dan sekretaris termasuk koordinator unit simpanan-simpanan dan kerajinan yang sebelumnya seudah dipilih saat pelatihan simpan pinjam, dan kerajinan rotan. sekretariat Badan Usaha Mufakat Sejahtera beralamat di Jl. Boelgassan Kamfar RT04, Desa Terantang, Seranau, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah dengan surat keterangan domisili no. 020/412/31/2013 tertanggal 10 April 2013. Selain dana bergulit dan kerajinan rotan BUMS direncanakan memiliki unit layanan wana tani dan jual beli rotan asalan.


 

There are no comments

Posting comments after three months has been disabled.

Yayasan Puter Indonesia

Kantor:
Perumahan Bogor Baru, Jl. Danau Toba, Blok C-2 No.9
Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah
Kode Pos 16127
P: +62 251 7568477
F: +62 251 7568477
E: office@puter.or.id